Rss Feed
  1. Hidup Itu Luas

    Minggu, 25 Desember 2011


    Aku tidak tahu "mereka" itu tidak tahu atau memang pura-pura tidak tahu, tapi yang jelas aku merasa keduanya sama-sama "aneh". Betapa tidak, hidup yang "mereka" miliki begitu terpaku pada sebuah "tren". "Mereka" menganggap itu sebuah hakikat hidup, tapi bagiku tu kepicikan berpikir. Tidak perlu dipungkiri lagi, sungguh pemikiran itu sudah banyak mengakar dan mendekam dalam pikiran setiap "mereka", baik "mereka" itu berapa pada posisi anak maupun orang tua.
    Aku sangat merasa miris ketika ada orang tua yang berkata kepada anak tercintanya,"nak, kamu sudah punya pacar?", "belum bu/pak" kata si anak. Lalu dengan mantap sang Ibu/Bapak berkata, "sudah saatnya nak kamu punya pacar, cari pacar donk!". Ingin rasanya menertawakan percakapan itu, tapi ku sadar yang berkata itu adalah sosok orang hebat dalam kehidupan setiap insan. Hingga tak pantas tuk ditertawakan, tapi mungkin cukuplah menyimpan rasa "geli" seraya berharap "mereka sadar".

    Sungguh bumi itu adalah bumi, bulan itu bulan, dan seterusnya setiap sesuatu itu kan tetap menjadi sesuatu itu sendiri. Sehingga dapat dimaklumi setiap perkataan "orang yang membenarkan diri", "kita adalah manusia, tidak ada manusia yang sempurna". Yah tepat sekali, tapi setauku manusia itu cerdas, dapat berpikir dengan baik, sehingga tidak mungkin jika manusia tidak dapat membedakan antara hitam dan putih. Dengan begitu manusiapun pastinya dapat mengubah dirinya ke arah yang lebih baik. Dengan perubahan, yang hina dapat menjadi mulia, sebab setiap sesuatu akan tetap jadi sesuatu itu kecuali ia melakukan perubahan pada dirinya sendiri, baik jadi sesuatu yang lebih baik dari sesuatu itu maupun menjadi lebih mulia dari sesuatu tadi. Namun betapa ku mengkhawatirkan ketika "setitik noda" telah menutupi nurani, hingga ia hanya akan tetap menjadi sesuatu itu sendiri, sebab "noda" itu akan menjadikannya tetap berada dalam "kegelapan" dan tidak tahu kalau "ia berada dalam kegelapan". Sering ku merasa itu jadi sebuah jawaban kenapa setiap "mereka" dengan bangganya seolah mengumumkan ke semua orang kalau "mereka" telah "memilki hubungan sebelum dihubungkan". Apakah "mereka" tidak mesara malu? Lalu apa yang sebenarnya "mereka" banggakan dari itu?

    Lebih mirisnya lagi adalah ketika "hubungan" itu berakhir, "mereka" dapat berkata, "kan tingggal cari yang lain, pasti masih banyak yang lebih baik". Yah, benar sekali, banyak yang lebih baik, tapi bukankan lebih baik jika tidak usah "mencari" sebelum saat "mencari" itu tiba?

    Haruskah hidup ini selalu "menjalin" sebelum "terjalin"? Haruskah "memiliki" sebelum "membeli"? Bukankah sebelum berlari harus belajar berjalan terlebih dahulu?

    Dan kenapa setiap "putus" terjadi, kemudian menjalin lagi dengan yang lain?

    Huuhhff... Apakah hidup hanya tuk itu? Cari pacar, lalu pacaran, lalu putus, lalu cari lagi, lalu pacaran lagi, putus lagi, lalu cari lagi, lalu terus-menerus siklus itu berulang. Terlalu sempit rasanya hidup ini hanya digunakan tuk hal sekecil itu.

    Sungguh, ku merasa kata luhur, yakni "pernikahan", telah ternoda oleh kata pacaran. "Mereka" mengganggap pacaran adalah jalan menuju pernikahan, sehingga mereka menyimpulkan bahwa cinta itu diawali dengan pacaran dan dibuktikan (baca: diakhiri) dengan sebuah pernikahan. Sehingga ketika dalam perjalanan (panjang ataupun pendek) sebuah pacaran, terjadi "putus" itu, dengan mudahnya "mereka" bersedih lalu berkata, "mungkin tidak jodoh". Haahh? sejak kapan perjodohan itu ditentukan sebuah pacaran. Kalaulah pacaran itu akan menentukan jodoh, apakah orang yang tidak pernah pacaran tidak akan pernah menemukan jodohnya? Lantas apakah setiap orang yang suka berpacaran akan dengan mudahnya menemukan jodohnya? Lalu kenapa ada orang yang rela menghilangkan masa depannya (bunuh diri) hanya karena putus dalam pacaran?

    Ntahlah dengan semua tanya itu, cukup pribadi setiap insanlah yang menghayatinya, sebab seribu alasan dan jawaban dapat dilontarkan tuk membenarkannya, hingga ia tidaklah membutuhkan jawaban, cukup hanya penghayatan saja.

    Aku hanya berpikir, apakah benar pernikahan yang luhur itu hanya tuk membuktikan cinta? Cinta dirajut melalui pacaran lalu dibuktikan dengan pernikahan. Berarti nikah itu adalah akhir dari sebuah cerita cinta. Apakah benar cerita yang menceritakan sebuah kehidupan, setelah menikah lalu "pasangan" itupun hidup bahagia tuk selamanya?

    Bagiku pacaran bukanlah awal dari sebuah cerita cinta dan nikah juga bukanlah akhir dari sebuah cerita cinta. Sebab bagiku awal dari sebuah cerita cinta adalah nikah itu sendiri, lalu dijalani dengan sebuah pacaran, hingga diakhiri oleh sebuah senyum kebanggaan saat generasi baru pun terbentuk dengan "sempurna".

    Menurutku nikah juga bukan cara tuk membuktikan cinta atau yang lebih hebatnya lagi adalah jalan tuk "melegalkan (menghalalkan)" sebuah hubungan, tapi ia lebih kepada sebuah langkah awal tuk "mencetak" sebuah generasi baru yang "sempurna". Sehingga kehalalan yang didapatkan merupakan bagian dari proses bukan tujuan. Demikian juga cinta, ia hanya ibarat sebuah pelumas bagi sebuah mesin, bukan mesinnya.

    ^%#%^&^^&)*&^$!@#$%^&*(), dari setiap apapun, semua itu kembali kepada pribadi masing-masing, sebab aku begitu suka dengan pernyataan,"hidup, hidup gua, yah suka-suka gua la". boleh-boleh saja berkata seperti itu, tapi perlu diingat siapa yang telah memberi hidup itu, lantas buat apa hidup itu??

    Semoga bermamfaat, Wallohu a'lam...
    |


  2. 0 komentar:

    Posting Komentar