Rss Feed
  1. Belajar Hidup

    Senin, 09 Januari 2012

    Hari ini menjadi hari pertama ku tuk pekan kelima bekerja disini. Yah, disini, di sebuah BUMN yang berkantor di Jalan Jend. Sudirman, tepatnya di gedung BRI II lantai 29, Jakarta Pusat. Awal berada disini aku tak tahu harus berbuat apa, beradaptasi dengan lingkungan dan pekerjaan yang akan dilakukan menjadi faktor pendukung "kekakuanku". Betapa tidak, sesampainya aku disini, kukira setumpukan pekerjaan yang siap tuk dikerjakan telah menantiku.


    Tapi ternyata langit cerah bukan berarti tidak hujan, hari pertamaku hanya kuhabiskan dengan sedikit mendengarkan wejangan dari "pak user" tentang sistem dan pekerjaan yang akan aku lakukan. Dan tentunya ia adalah "orang sibuk" pada saat itu, ada beberapa pekerjaan yang harus segera ia selesaikan dan meeting yang juga harus ia ikuti. Alhasil, aku dan seorang temanku yang mendapat "amanah" itu, sebut saja Yunis Kripsiawan Watuaji, hanya menunggu sampai matahari terbenam hingga waktu pulangpun tiba.

    Sungguh hari yang sebenarnya mendebarkan bagiku, walau hanya aku habiskan dengan duduk santai sambil menunggu "ketidakpastian" di sebuah ruang dingin (karena ber-AC) dan jua "terisolasi" itu. Hari kedua dan ketigapun berlalu dengan tema yang sama, duduk manis di depan komputer menikmati sejuknya AC sambil menatap pemandangan sang Ibukota negaraku tercinta.

    Akhirnya pada hari keempat, hujanpun reda dan pelangi itupun menampakkan dirinya, pekerjaan yang ditunggu-tunggupun akhirnya menampakkan diri jua. Mekarnya hatiku saat itu, seolah tebangun di pagi hari dari tidurku yang lelap. Semangat ku pun kian tumbuh saat hari pertama di pekan kedua tiba. Sederetan pekerjaan pun siap tuk diselasaikan. Hari demi hari begitu kunikmati, lingkungan SMI pun semakin kucintai. Mulai satpam, receiptionis, sampai dengan karyawan-kayawannya terasa begitu ramah.

    Walau demikian, aku sangat paham kalau langit cerah bukan berarti tidak hujan, pastilah ada kendala-kendala yang harus aku hadapi. Mulai dari "kealpaan" data, "kurang bersahabatnya" sistem dengan data yang tersedia, sampai dengan "kekanak-kanakannya" sistem yang mengakibatkatkan proses input data pun sering terkendala.

    Walaupun demikian, aku juga yakin, kalau langit mendung tak selamanya hujan. Ada banyak hal yang bisa "diambil hikmahnya" disamping ada banyak hal juga yang dapat "dinikmati". Senyum manis, tegur sapa, dan komunikasi yang indahpun kerap aku dapatkan dari mereka, aku suka itu dan itupun benar-benar "menghibur gundaku".

    Demikian jua halnya hidup, tak jarang gunda dan galau menghiasi setiap sisi kehidupan. Ada kalanya ia bersifat "permanen", "semipermanen", atau selain keduanya. Tapi lagi-lagi ini permasalahan pola pikir. Sering sekali setiap pribadi merasa pahitnya tak sepahit yang insan lain rasakan. Seolah hidup tidak adil. Tapi ternyata semua itu ada hikmahnya, semua itu bisa dinikmati.

    Jika ia bersifat permanen, maka ada baiknya jika ia tidak dianggap sebagai sebuah masalah (kegundaan ataupun kegalauan). Beralih kepada sebuah ketulusan tuk menirima setiap apa yang telah ada, dengan ini mungkin akan memunculkan rasa nyaman, tenang, dan damai. Selain itu, yang tak kalah pentingnnya adalah rasa syukur, keyakinan bahwa semua yang ada adalah yang terbaik.

    Sulit sungguh sulit, karena pahit kan tetap terasa pahit walau manis telah mewarnai, namun aku yakin pahit itu bisa dinikmati, salah satu caranya adalah dengan terus mengecapnya, karena tanpa mengenal atau lupa dengan rasa pahit, maka rasa manispun kan terasa biasa. Sehingga diperlukan adanya rasa pahit yang selalu "menawan" di hati agar rasa manispun kan selalu terasa manis.

    Tidak jauh berbeda dengan rasa pahit yang "semipermanen", walau beragam rupanya, namun semua itu pada akhirnya tetaplah sama. Ia terasa selolah telah menggerogoti setiap helai napas, namun lagi-lagi ini adalah masalah pola pikir. Sering sekali kegundaan ataupun kegalauan muncul begitu berat rasanya. Semua alur hidup serasa terpengaruh olehnya. Tapi langit mendung bukan berarti selalu hujan, tak usah hiraukan kelamnya langit, bukankah dengan itu hari kan terasa lebih sejuk. Kalaulah hujan, bukankah dengan itu hari kan terasa lebih segar. Beralih kepada sesuatu yang lebih menberikan dan menciptakan rasa tenang akan jauh lebih berarti.

    Sakit kian sakit, karena hati takkan pernah berbohong. Pahit tetaplah menjadi pahit, laksana empedu yang terasa pahit. Tapi empedu usahlah pahit, karena tanpa pahit tidaklah berfungsi. Demikian kiranya hidup, sesuatu yang pahit biarlah ia pahit, karena bisa jadi tanpa terasa pahit itu, akan ada sesuatu yang takkan berfungsi lagi.

    Hal yang sama juga berlaku tuk kegundaan ataupun kegalauan yang mungkin bersifat selain keduanya. Namun ada sudut yang mungkin berbeda, yakni defenisi pahit itu sendiri. Sebab bisa jadi pahit yang terasa pahit bukan pahit yang seharusnya pahit. Beralih pada berpikir positif (positive thinking) mungkin akan mengurangi beban yang ada.


    Wallohu a'lam..
    |


  2. 0 komentar:

    Posting Komentar